Penulis: mansaweb

  • Exit Meeting Itjen Akhiri Kunker Evaluasi Asta Protas di MAN 1 Pontianak

    Exit Meeting Itjen Akhiri Kunker Evaluasi Asta Protas di MAN 1 Pontianak

    Pontianak – 23 Desember 2025 bertempat di kampus 2 MAN 1 Pontianak jalan Pemda Tanjung Raya, Tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama Republik Indonesia mengadakan exit meeting sebagai akhir kunjungan kerja dalam rangka evaluasi pelaksanaan Asta Protas Kementerian Agama RI.


    Kegiatan exit meeting ini merupakan rangkaian akhir dari proses evaluasi yang telah dilakukan Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI terhadap pelaksanaan delapan program prioritas (Asta Protas) di lingkungan MAN 1 Pontianak. Evaluasi tersebut bertujuan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai dengan arah kebijakan, prinsip tata kelola yang baik, serta mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan madrasah.


    Dalam pertemuan ini, Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI terdiri dari M. Yudhi Firmansyah, Yulianti Rini Fadhillah, Jamilludin Ali dan Farida Nur Azizah menyampaikan hasil sementara evaluasi, catatan penting, serta rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak madrasah. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan dan penguatan pelaksanaan program Asta Protas ke depan. Diantara hasil evaluasi terkait Protas 4 (Pendidikan Unggul, Ramah dan Terintegrasi) adalah RTL atau Rencana Tindak Lanjut terhadap kinerja SDM di MAN 1 sudah ada dan dinyatakan memuat dokumen RTL dengan target waktu yang jelas. Termasuk implementasi “Gerakan Nasional Kitab Suci” dan dinyatakan kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin harian yang dipandu oleh guru mata Pelajaran sesuai jadwal kelas masing-masing.


    Pihak MAN 1 Pontianak menyambut baik pelaksanaan exit meeting ini sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu, transparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Kepala MAN 1 Pontianak, Sholihin HZ beserta jajaran menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti seluruh masukan dan rekomendasi yang disampaikan demi terwujudnya madrasah yang berintegritas, profesional, dan berdaya saing.


    Sebagai sambutan penutup, Sholihin HZ menyampaikan ucapan terimakasih atas berbagai masukan tim, “Kami atas nama Kepala MAN 1 Pontianak dan Keluarga Besar MAN 1 mengucapkan terimakasih atas kedatangan tim itjen ke MAN 1 Pontianak. Berbagai masukan saran dan arahan menjadi semangat kami untuk memperbaiki dan merevisi apa yang menjadi arahan tim itjen.”


    Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI dan MAN 1 Pontianak dapat terus terjalin dengan baik dalam mendukung suksesnya pelaksanaan Asta Protas serta penguatan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Agama.**

  • Tim Itjen Kemenag Kunjungi MAN 1 Pontianak untuk Evaluasi Asta Protas

    Tim Itjen Kemenag Kunjungi MAN 1 Pontianak untuk Evaluasi Asta Protas

    Pontianak – MAN 1 Pontianak menerima kunjungan Tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama Republik Indonesia dalam rangka Kegiatan Evaluasi Asta Protas, yang dilaksanakan pada Kamis, 18 Desember 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi dan penjaminan mutu atas implementasi Asta Protas (Asta Program Prioritas) Kementerian Agama di lingkungan madrasah. Kedatangan Tim Inspektorat Jenderal ini berdasarkan Surat Tugas dengan nomor 2452/IJ/12/2025 yang menugaskan lima orang untuk melaksanakan tugas Evaluasi Asta Protas Pendidikan Unggul Ramah dan Terintegrasi serta Pesantren Berdaya pada MAN 1 Pontianak.


    Pelaksanaan Evaluasi Asta Protas ini diawali dengan Entry Meeting yang berlangsung di Ruang guru MAN 1 Pontianak. Tim Evaluator Itjen terdiri dari Muhammad Yudhi Firmansyah (Pengendali Teknis); Yulianti Rini Fadilah (Ketua Tim); Jamiluddin Ali (Anggota Tim) dan Farida Nur Azizah (Anggota Tim). Kepala MAN 1 Pontianak Sholihin, S.Ag., M.Pd.I. beserta Kepala Tata Usaha, Wakil Kepala Madrasah menyambut kedatangan tim di ruang Kepala Madrasah dan selanjutnya membersamainya di ruang guru untuk tatap muka dengan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan MAN 1 Pontianak.


    Yudhi, selaku Pengendali Teknis selain menyampaikan maksud dan tujuan kehadirannya, juga menekankan arti penting pelaksanaan Asta Protas Kementerian Agama. Yudhi juga menyampaikan bahwa Asta Protas Kementerian Agama didasarkan pada Keputusan Menteri Agama nomor 244 Tahun 2025 tentang Program Prioritas Kementerian Agama. Dalam hal ini, Itjen selaku quality assurance (penjamin mutu) di lingkungan Kementerian Agama diberi mandat untuk memastikan bahwa Program Prioritas tersebut telah dijalankan oleh seluruh lini/ satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama. Selanjutnya Yulianti, selaku Ketua Tim menjelaskan bahwa dalam evaluasi Asta Protas ini akan melakukan evaluasi Asta Protas khususnya terkait pendidikan unggul, ramah, dan terintegrasi serta digitalisasi tata kelola.


    Pada kesempatan berikutnya, Kepala MAN 1 Pontianak, Sholihin HZ menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan pendampingan dari Tim Inspektorat Jenderal. Ia menegaskan bahwa kegiatan evaluasi ini menjadi momentum penting bagi madrasah untuk melakukan refleksi, perbaikan, dan penguatan komitmen dalam menjalankan Asta Protas secara berkelanjutan.


    Melalui kegiatan intermeeting ini, MAN 1 Pontianak diharapkan dapat semakin optimal dalam mengimplementasikan Asta Protas, sehingga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang unggul, moderat, dan berdaya saing.**

  • Selamat dan Sukses atas Prestasi Siswa MAN 1 Pontianak

    Selamat dan Sukses atas Prestasi Siswa MAN 1 Pontianak

    Pontianak, 12 September 2025 – MAN 1 Pontianak kembali menorehkan prestasi gemilang melalui para siswanya yang berhasil mengharumkan nama madrasah di tingkat nasional maupun daerah.
    1. Baihaky Fahri, siswa kelas XG, berhasil meraih:
    • Medali Perak pada ajang Festival Olahraga Nasional (FORNAS) 2025 di Nusa Tenggara Barat.
    • Medali Emas pada ajang Seni Tunggal Baku Kejuaraan Pencak Silat “Wekasan Cup II” 2025 Provinsi Kalimantan Barat.
    2. Eko Prabowo, siswa kelas XA, berhasil meraih:
    • Medali Emas pada Laga Kelas G Putra Kejuaraan Pencak Silat “Wekasan Cup II” 2025 Provinsi Kalimantan Barat.

    Keluarga besar MAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi, selamat, dan sukses atas prestasi yang telah diraih oleh kedua siswa berbakat ini. Semoga pencapaian tersebut menjadi inspirasi dan motivasi bagi seluruh siswa MAN 1 Pontianak untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik, serta mampu mengharumkan nama madrasah, daerah, dan bangsa Indonesia.

  • Kepala MAN 1 Pontianak Ikuti Pembinaan oleh Kepala Kemenag Kota Pontianak

    Kepala MAN 1 Pontianak Ikuti Pembinaan oleh Kepala Kemenag Kota Pontianak

    Pontianak – Kepala MAN 1 Pontianak, Sholihin HZ turut menghadiri kegiatan pembinaan yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak pada Senin (28/7).

    Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Kepala Madrasah Negeri se-Kota Pontianak, masing-masing didampingi oleh lima orang perwakilan guru dan tenaga kependidikan (TU). Turut hadir pula para kepala seksi (kasi), penyelenggara, serta Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kota Pontianak.

    Pembinaan disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pontianak, H. Ruslan, didampingi oleh Kasubbag TU, Ruswandi. Dalam arahannya, H. Ruslan menekankan pentingnya menjaga nama baik Kementerian Agama sebagai lembaga yang berperan besar dalam pembinaan kehidupan beragama, pendidikan, dan pelayanan publik.

    “Setiap aparatur Kemenag harus menjadi cerminan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Kita bukan hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas administratif, tapi juga menjaga marwah dan kehormatan Kementerian Agama. Tugas kita adalah memberikan layanan yang terbaik untuk Masyarakat. Kita adalah abdi negara” tegas H. Ruslan. Ia juga mengingatkan pentingnya integritas sebagai landasan utama dalam bekerja, terlebih bagi ASN di lingkungan Kemenag yang menjadi contoh bagi masyarakat.

    “Integritas bukan hanya soal bekerja sesuai aturan, tapi juga tentang keikhlasan dalam melayani dan kesetiaan pada nilai-nilai yang kita junjung bersama,” tambahnya.

    Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh jajaran madrasah dan satker lainnya dalam memberikan pelayanan terbaik, meningkatkan disiplin, serta menciptakan lingkungan kerja yang profesional dan berakhlak. Pertemuan yang dimulai hingga menjelang siang ini dilanjutkan dengan sosialisasi dari BSI terkait dengan informasi pra-pensiun dengan keterangan yang sudah melebih usia 48 tahun. Agenda rapat ditutup dengan pertemuan kesiapan lomba dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama.**

    (Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

  • Ada, Tiada dan “Berada”

    Ditemukan melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme disebutkan dalam pandangan materialisme bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi.

    Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Dari kata ’ada’ menunjukkan bahwa ia ada dan adanya harus berbentuk materi. Kecenderungan faham ini adalah tidak memiliki ketertarikan untuk sesuatu yang sifatnya spiritual dan entitas non-material.


    Kata ’ada’ menunjukkan bahwa sesuatu itu ada karena memang ia ada demikian juga sebaliknya jika disebutkan kata ’tiada’ berarti ia ’tidak ada’. Lain lagi penggunakan kata ’berada’. Hemat penulis, dua hal yang bisa menjelaskan makna ’berada’.

    Pertama, ’berada’ jika difahami secara harfiyah maka ia menunjukkan baha sesuatu atau seseorang itu menunjukkan ia ada. Contoh sederhana penggunaan kata ini adalah, ’ia sekrang berada dimana?’ dijawab, ”ia sekarang berada di…” Ini menunjukkan bahwa kata ’berada’ lebih kepada posisi atau letak dimana kala itu.

    Lain halnya jika ’berada’ ditempatkan pada makna kedua yaitu ’berada’ sebagai kaat yang menunjukkan tidak sekedar posisi atau letak secara materi tapi bisa mengarahkan kepada status, yang biasanya status ekonomi dan kedudukan seseorang seperti pada kata, ”ia sudah menjadi orang yang berada”. Kata ’berada’ bisa menunjukkan bahwa adanya ia karena faktor diluar dirinya sehingga ia dinilai menjadi ’berada’.

    Ada kata yang lebih menarik lagi, ada tapi dianggap tidak ada. Pernyataan ini lebih kepada letak ke’ada’an seseorang yang secara materi atau fisik ia memang ada tapi tidak dianggap ada karena ada yang dimaksud lebih kepada nilai atau spirit yang mengiringi keber-ada-an seseorang.

    Ungkapan yang menunjukkan ada dianggap benar-benar ada atau sebaliknya seperti berikut: seseorang yang kedatangannya menggenapkan dan kepergiannya mengganjilkan. Ungkapan ini lebih mengarah kepada nilai atau spirit seseorang yang memberikan arti bahwa ia ’berada’.

    Sungguh disayangkan jika ada seseorang yang secara fisik ia ada tapi dianggap tidak ada. Penilaian ’tidak ada’nya lebih pada posisi nilai dan spirit kehadirannya. Emha Ainun Nadjib membagi manusia dalam tiga kelompok yaitu manusia wajib, manusia sunnah dan manusia haram.

    Manusia wajib menunjukkan pada ’ada’-nya seseorang sebagai problem solver dan policy maker dari sebuah kumpulan. Pada posisi ini, manusia wajib sangat ditunggu keberadaannya sebagaimana ungkapan di atas yang kedatangannya menggenapkan dan kepergiannya mengganjilkan.

    Manusia wajib menjadi kunci dari terlaksana atau tidaknya sebuah aktifitas. Ia menjadi bak dewa yang memutuskan segala sesuatu. Berikutnya adalah manusia dengan katagori manusia sunnah. Sebagaimana hukum fiqh, maka manusia sunnah diartikan sebagai yang ke-ada-annya bernilai jika ia berada ditempat tersebut namun jika ia berlalu atau tidak ada, aktifitas kumpulan tersebut tetap berlanjut.

    Jika ia ada, maka komunitas menjadi lebih semangat namun kala ia tiada, aktifitas tetap berlanjut. Kategori yang tidak boleh pada setiap orang adalah manusia haram. Maskud dari kata ini adalah seseorang yang ke-ada-annya tidak diinginkan oleh komunitas setempat.

    Ada-nya dianggap tidak ada meskipun ia ada, mengapa? Karena datang sebagai bagian dari masalah bukan bagian dari solusi. Manusia yang memberi nilai dan ada-nya dianggap ’ada’ adalah jika kehadirannya memberikan harapan dan bernilai.

    Manusia dianggap ada jika adanya memiliki nilai dan menjadi support bagi sekitarnya dan jika secara fisik ia ada tapi dianggap tidak ada, sesungguhnya dikala itulah ia dinilai tidak berada apalagi ia hadir sebagai bagian dari masalah. Semoga tercerahkan.*

    (Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

  • Hari Anak Nasional di MAN 1 Pontianak Gelorakan Cinta Lingkungan, Peduli Tanaman

    Hari Anak Nasional di MAN 1 Pontianak Gelorakan Cinta Lingkungan, Peduli Tanaman

    Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2025 di MAN 1 Pontianak menjadi momentum untuk menumbuhkankan cinta lingkungan. Cinta lingkungan diwujudkan dengan bersama-sama menggalakkan gerakan menanam sambil membawa tanah bakar.


    Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2025, MAN 1 Pontianak menggelar kegiatan bertema “Anak Hebat, Lingkungan Sehat”. Kegiatan ini difokuskan pada gerakan cinta lingkungan yang melibatkan seluruh siswa, guru, dan staf madrasah dalam aksi penanaman tanaman serta edukasi pentingnya menjaga kelestarian alam.


    Kepala MAN 1 Pontianak, Sholihin HZ didampingi wakil kepala madrasah bidang kesiswaan, Luqman Hakim dalam pernyataannya menyatakan bahwa gerakan ini sebagai bagian dari menumbuhkan cinta lingkungan dan mencintai keindahan. “Cinta lingkungan harus ditumbuhkan dalam berbagai kalangan, siswa adalajh pelaku utama di setiap Lembaga Pendidikan karenanya harus digalakkan terus menerus.

    Moment Hari Anak Nasional di MAN 1 Pontianak menjadi penting untuk mewujudkan hal itu”.
    DItambahkan oleh mantan waka kesiswaan MAN 2 Pontianak, bahwa kegiatan ini tidak hanya untuk memeriahkan Hari Anak Nasional, tetapi juga sebagai upaya membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini. “Kami ingin menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak khususnya siswa MAN 1 Pontianak sebagai bagian dari pembentukan generasi yang bertanggung jawab dan cinta alam”.

    Sebagaimana sudah diinformasikan ke siswa dan orang tuanya, bahwa dalam rangka HAN maka seluruh siswa dianjurkan untuk membawa tanaman hias dan tanaman obat keluarga (TOGA). Setiap kelas dibawah koordinasi seluruh wali kelas mendapatkan tanggung jawab untuk merawat tanaman yang telah ditanam sebagai bagian dari program jangka panjang madrasah dalam mewujudkan lingkungan yang hijau dan asri.

    Banyaknya tanaman hias dan tanah sebagaiman anjuran madrasah ternyata mendapat antusiasme tinggi dari para siswa yang merasa bangga dapat berkontribusi nyata terhadap lingkungan.
    Dengan semangat Hari Anak Nasional, MAN 1 Pontianak berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli terhadap keberlangsungan lingkungan.**

  • Akankah Muharram Berakhir Tanpa Makna

    Termasuk orang yang cerdas adalah orang pandai memanfaatkan momentum yang ditemuinya. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup dan sejarah manusia harus dijadikan sebagai ‘ibrah atau pelajaran bagi yang masih hidup.

    Sejarah perjalanan spiritual manusia apalagi yang dialami oleh manusia pilihan hendaknya menuntun kita untuk lebih baik. Peristiwa isra miraj Nabi Muhammad saw, perjalanan hijrah, menariknya kisah menjelang kelahiran Rasulullah saw, persitiwa qurban dan lain-lain harus mendorong kita untuk menelisik apa pesan yang terkandung di dalamnya.

    Sungguh disayangkan jika persitiwa yang kita sempat menemui dan mengenang perjalanannya hanya berakhir sebagai sebuah upacara dan cara ceremonial belaka. Tambah usia tapi tidak cerdas memahami makna.

    Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam yang saat ini memasuki tahun ke 1447 akan berakhir. Sebuah keniscayaan apapun akan menemui masa akhirnya, demikian juga waktu atau usia akan menemui masa ajalnya. Berikut catatan sebagai renungan kita jelang akhir Muharram 1447 H.

    Pertama, ketika kita masih mendengar ayam berkokok dini hari dan bangun dengan segarnya itu sebagaui pertanda bahwa Allah SWT masih memberi kesempatan kita untuk beramal dan menebar kebaikan. Betapa banyak mereka yang tidur dan tidak pernah bangun lagi selama-lamanya.

    Mereka tidur untuk tidak pernah bangun lagi. Bersyukurlah kita manakala masih bisa bangun dengan sadar dan beraktifitas seperti biasa, manfaatkan kesempatan umur itu untuk berbuat baik dan menebar kemanfaatan.

    Kedua, disatu sisi kita bersyukur tambah usia namun sejalan dengan itu mari kita renungkan juga bahwa tambah usia berarti berkurang jatah hidup kita di dunia. Jika Allah SWT menetapkan kita wafat usia 60 tahun, saat ini usia 50 tahun dan tahun depan ditambah umur menjadi 51 tahun, sejalan dengan itu berarti jatah hidup kita tinggal sembilan tahun, kala menginjak usia 52 tahun berarti jatah hidup kita tinggal delapan tahun dan seterusnya maka bersyukur dan introspeksilah kala kiat berada dalam kondisi demikian.

    Ketiga, menjadi momentum untuk menambah investasi kebaikan. Diantara pahala yang terus mengalir adalah amal jariyah yang kemanfaatannya dirasakan oleh lingkungan. Aktifitas jariyah ini pahalanya akan terus memberikan manfaat sebagai tabungan pahala bagi si pelakunya.

    Setiap hari, pekan dan hitungan bulan harus mendorong kita menjadikan pelaku dan pelopor kebaikan. Hadits Rasulullah SAW mengindikasikan bahwa siapa yang mengajak pada kebaikan maka berbagai kebaikan yang ada akan mengalir dan menjadi investasi kebaikan bagi si pelopornya seberapa kebaikan yang ada di dalamnya tanpa mengurangi sedikitpun.

    Namun demikian juga si pelaku atau pelopor kemungkaran maka betapa banyak kejahatan terjadi dalam acara itu sesungguhnya adalah menjadi sumbangsih dosa bagi si pelopor tanpa mengurangi sedikitpun.

    Muharram boleh berlalu, tapi sebagai manusia yang cerdas harus memahaminya dengan cermat dan menjadikan peluang itu sebagai moment untuk memperbaiki diri dan menjadikannya kesempatan untuk menabur dan menebar kebaikan.

    Tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Muharram tahun yang akan datang bahkan esok tidak ada garansi kita masih mendengar ayam berkokok dan lantunan ayat-ayat Allah SWT. Tugas kita sekarang adalah mengisi hari-hari dengan aktifitas yang saleh dan menebar kesalehan, supaya apa? Sebagai bekal kita kelak menghadap Allah SWT bahwa aktifitas kita ada yang memberi manfaat bagi orang lain. Semoga.*

    (Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

  • Romantisme ala Rasulullah SAW

    Sosok Rasulullah saw adalah manusia terbaik sepanjang zaman. Mengupas kisah hidup beliau bak mengupas kulit bawang yang tidak pernah akan habis kecuali yang nampakh adalah kebeningan, kehalusan dan indahnya kulit dan isi. Aspek apa yang ingin diungkap dan diungkit dari kehidupan beliau sesungguhnya sangat layak untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup.

    Sebegitukah kemuliaan beliau? AL Quran menepis keraguan manusia tentang beliau dengan potongan ayat dari Al-Quran, tepatnya QS. An-Najm/ 53: 3. Ayat ini secara harfiah berarti “Dan tidaklah dia (Nabi Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya”. Maksud dari ayat ini adalah apa yang diucapkan Nabi Muhammad, baik itu Al-Quran maupun penjelasannya, bukanlah keinginan pribadinya atau berdasarkan hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Allah.

    Ayat ini juag memiliki makna segala tindakannya, perkataannya, dan ajarannya merupakan representasi dari perintah Allah dan wahyu yang diturunkan kepadanya. Dengan kata lain, ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang berbicara dan bertindak sesuai dengan wahyu yang diterimanya, bukan berdasarkan keinginan pribadinya. 

    Diantara keteladanan beliau yang dapat dicontoh adalah dalam hal kehidupan berkeluarganya. Bagaimana beliau menjadi sosok yang menyayangi keluarganya, keteladanan saat beliau komunikasi dengan isterinya. Berikut diantara keteladanan yang bisa dijadikan contoh yang dikutip dari buku ’Romantisme ala Rasulullah’ (2015: 79) memuji makanan yang dihidangkan sang istri.

    Tidak pernah dalam sejarah Nabi mengeluh karena makanan istrinya keasinan, atau terlalu hambar. Bila ditanya oleh istrinya, apakah makanan hasil masakannya enak? Maka Nabi akan menjawab, enak. Berbeda dengan kebanyakan kita yang kalau mendapatkan masakan sang istri asin, maka mereka akan marah sekali. Tapi tidak demikian dengan Nabi Muhammad saw. la tidak mau membuat istrinya bersedih atau kecewa karena tidak dihargai.

    Berikutnya Rasulullah tidak pernah mencela atau menyakiti istrinya baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan, memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.” Selanjutnya adalah tidak bermuka masam pada istri.

    Rasulullah senantiasa berwajah cerah dan tidak bermuka masam di hadapan istri tanpa sebab. Sebagaimana Tafsir Al-Manar menerangkan Qs.  Annisa/ 4: 19 makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan”.

    Romantisme Rasulullah saw berikutnya adalah makan dan minum bersama istri dalam satu wadah. Aisyah r.ha berkisah: “Aku minum air dari sebuah gelas, kemudian Rasulullah mengambil gelas itu dan meminumnya jug dibekas bibir saya itulah Rasulullah menyeruput minuman.Aku menggigit makanan, dan Rasulullah juga meletakkan mulutnya dibekas bibir saya.” (HR. Muslim).

    Inilah contoh bagi suami dan istri sepadu dan sepadan, hidup bersama dalam suka dan duka, makan nasi sepiring berdua, minum air segelas berdua. Diantara romantisme beliau adalah bersandar kepada isteri. Aisyah berkata: “Rasulullah menyandarkan atau meletakkan kepalanya di atas pangkuanku, padahal aku sedang datang bulan.” (HR. Muslim).

    Kemesraan suami dan istri bisa dibangun dengan saling menyandarkan kepala kepada pasangannya. Jika sedang dalam perjalanan, bisa salah satu menyandarkan kepala di bahu atau di pangkuannya.

    Sebegitu dekatkah Rasululllah SAW dan apakah tidak mengurangi nilai-nilai kenabiannya? Justru disinilah menunjukkan bahwa Rasulullah SAW, meskipun beliau penerima wahyu langsung dari Jibril as, meskipun beliau bergelar al mustofa dan al ami, penghulu para nabi dan rasul sejatinya beliau adalah manusia biasa, manusia biasa dengan aktifitas manusia pada umumnya.

    Artinya mengikuti Rasulullah SAW adalah sebuah hal yang bisa dilakukan siapapun karenanya misi kenabian sangat sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan fitrah manusia itu sendiri.*

    (Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

  • Mendoakan Pemimpin adalah Bagian dari Kebaikan

    Sabda Rasulullah SAW tentang pemimpin sangat mudah ditemukan, ”setiap orang adalah pemimpin”, ”imam (pemimpin) adalah orang yang diikuti”, ”imam (pemimpin) yang tidak disenangi” dan berikut ini: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian seseorang mengatakan. ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan salat di antara kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855).

    Pemimpin dalam Khazanah keislaman disebut dengan imam. Kata ini sangat erat kaitannya dengan kata amama yang berarti ’di depan’. Teks hadits yang umum dapat diketahui bahwa sesungguhnya setiap orang adalah pemimpin. Sungguh menarik bahasa yang terdapat dalam hadits ini dan pemahamannya kira-kira begini: setiap orang adalah pemimpin, dari priabdi pemimpin yang baik akan melahirkan sekelompok orang yang baik juga, selanjutnya akan menggelinding menjadi kelompok yang lebih besar lagi dan akhirnya dari baik menjadi kebaikan pada level yang lebih tinggi. Sehingga kebalikannya logikanya adalah bangsa yang baik karena terdiri dari kelompok yang baik dan kelompok yang baik berasal dari individu-individu yang baik.

    Hakikatnya, pemimpin adalah pewaris nilai-nilai kenabian dan membawa misi ilahiyah. Empat kategori pemimpin dipraktekkan dan diperlihatkan Rasulullah SAW yakni SAFT atau siddik, amanah, fatonah dan tabligh. Siddik diartikan  jujur, amanah sebagai dapat dipercaya, fatonah bermakna cerdas dan tabligh yakni menyampaikan. Situasi dan kondisi dimana ia berada menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari situasi kepemimpinan.

    Rasulullah menyebutkan bahwa pemimpin yang baik adalah terjadinya keterhubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Adanya keselerasan, ketundukan, kemauan mengikuti atas dasar keikhlasan antaa imam dan makmum maka masing-masing harus tahu posisi dan ketentuannya. Imam adalah orang yang harus diikuti sementara adalah mereka yang mengikuti. Fiqh mensyaratkan tidak boleh makmum mendahului imam tapi jika imam keliru maka makmum mengingatkan sebagai bentuk kerjasama kelompok. Jika yang terbangun adalah semangat membangun, kerjasama egaliter dan saling menguntungkan, harmonisasi dalam bergaul maka akan muncul kesesuaian yang berdampak pada saling menguatkan. Pemimpin yang baik disinyalir oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang senang mendoakan kebaikan pada rakyatnya, sebagai timbal baliknya adalah maka rakyatnya mendoakan kebaikan untuk para pemimpinya. Jangan sepelekan doa, karena kita tidak tahu diantara masyarakat umum ada doa yang begitu dipanjatkan membumbung ke langit menembus batasan-batasan materi. Jangan sepelekan doa karena kita tidak tahu doa mana dan dari mulut mana doa yang diijabah oleh Allah SWT.

    Alangkah indahnya pertautan antara pemimpin dan rakyatnya jika doa yang keluar adalah, ”Ya Allah, tunjuki pemimpin kami agar senantiasa berada pada jalanMU, berikan kekuatan padanya hingga apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya tercapai dengan baik dan senantiasa dalam lindungan-MU ya Allah.” Demikian juga doa yang dilantukan oleh pemimpinnya, ”Ya Rob, Anugerahi rakyatku dengan berbagai kebaikan, muliakan keluarganya, sukseskan kehidupan anak dan zuriyatnya, lapangkan rezekinya dan tuntunlah agar senantiasa dalam kebaikan dan selalu berbuat baik”. Luar biasa, dua komunikasi yang selalu terhubung dengan kekuatan langit. Semoga terwujud*

    (Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)