Termasuk orang yang cerdas adalah orang pandai memanfaatkan momentum yang ditemuinya. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup dan sejarah manusia harus dijadikan sebagai ‘ibrah atau pelajaran bagi yang masih hidup.
Sejarah perjalanan spiritual manusia apalagi yang dialami oleh manusia pilihan hendaknya menuntun kita untuk lebih baik. Peristiwa isra miraj Nabi Muhammad saw, perjalanan hijrah, menariknya kisah menjelang kelahiran Rasulullah saw, persitiwa qurban dan lain-lain harus mendorong kita untuk menelisik apa pesan yang terkandung di dalamnya.
Sungguh disayangkan jika persitiwa yang kita sempat menemui dan mengenang perjalanannya hanya berakhir sebagai sebuah upacara dan cara ceremonial belaka. Tambah usia tapi tidak cerdas memahami makna.
Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Islam yang saat ini memasuki tahun ke 1447 akan berakhir. Sebuah keniscayaan apapun akan menemui masa akhirnya, demikian juga waktu atau usia akan menemui masa ajalnya. Berikut catatan sebagai renungan kita jelang akhir Muharram 1447 H.
Pertama, ketika kita masih mendengar ayam berkokok dini hari dan bangun dengan segarnya itu sebagaui pertanda bahwa Allah SWT masih memberi kesempatan kita untuk beramal dan menebar kebaikan. Betapa banyak mereka yang tidur dan tidak pernah bangun lagi selama-lamanya.
Mereka tidur untuk tidak pernah bangun lagi. Bersyukurlah kita manakala masih bisa bangun dengan sadar dan beraktifitas seperti biasa, manfaatkan kesempatan umur itu untuk berbuat baik dan menebar kemanfaatan.
Kedua, disatu sisi kita bersyukur tambah usia namun sejalan dengan itu mari kita renungkan juga bahwa tambah usia berarti berkurang jatah hidup kita di dunia. Jika Allah SWT menetapkan kita wafat usia 60 tahun, saat ini usia 50 tahun dan tahun depan ditambah umur menjadi 51 tahun, sejalan dengan itu berarti jatah hidup kita tinggal sembilan tahun, kala menginjak usia 52 tahun berarti jatah hidup kita tinggal delapan tahun dan seterusnya maka bersyukur dan introspeksilah kala kiat berada dalam kondisi demikian.
Ketiga, menjadi momentum untuk menambah investasi kebaikan. Diantara pahala yang terus mengalir adalah amal jariyah yang kemanfaatannya dirasakan oleh lingkungan. Aktifitas jariyah ini pahalanya akan terus memberikan manfaat sebagai tabungan pahala bagi si pelakunya.
Setiap hari, pekan dan hitungan bulan harus mendorong kita menjadikan pelaku dan pelopor kebaikan. Hadits Rasulullah SAW mengindikasikan bahwa siapa yang mengajak pada kebaikan maka berbagai kebaikan yang ada akan mengalir dan menjadi investasi kebaikan bagi si pelopornya seberapa kebaikan yang ada di dalamnya tanpa mengurangi sedikitpun.
Namun demikian juga si pelaku atau pelopor kemungkaran maka betapa banyak kejahatan terjadi dalam acara itu sesungguhnya adalah menjadi sumbangsih dosa bagi si pelopor tanpa mengurangi sedikitpun.
Muharram boleh berlalu, tapi sebagai manusia yang cerdas harus memahaminya dengan cermat dan menjadikan peluang itu sebagai moment untuk memperbaiki diri dan menjadikannya kesempatan untuk menabur dan menebar kebaikan.
Tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Muharram tahun yang akan datang bahkan esok tidak ada garansi kita masih mendengar ayam berkokok dan lantunan ayat-ayat Allah SWT. Tugas kita sekarang adalah mengisi hari-hari dengan aktifitas yang saleh dan menebar kesalehan, supaya apa? Sebagai bekal kita kelak menghadap Allah SWT bahwa aktifitas kita ada yang memberi manfaat bagi orang lain. Semoga.*
(Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)
Tinggalkan Balasan