Romantisme ala Rasulullah SAW

Sosok Rasulullah saw adalah manusia terbaik sepanjang zaman. Mengupas kisah hidup beliau bak mengupas kulit bawang yang tidak pernah akan habis kecuali yang nampakh adalah kebeningan, kehalusan dan indahnya kulit dan isi. Aspek apa yang ingin diungkap dan diungkit dari kehidupan beliau sesungguhnya sangat layak untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup.

Sebegitukah kemuliaan beliau? AL Quran menepis keraguan manusia tentang beliau dengan potongan ayat dari Al-Quran, tepatnya QS. An-Najm/ 53: 3. Ayat ini secara harfiah berarti “Dan tidaklah dia (Nabi Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya”. Maksud dari ayat ini adalah apa yang diucapkan Nabi Muhammad, baik itu Al-Quran maupun penjelasannya, bukanlah keinginan pribadinya atau berdasarkan hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Allah.

Ayat ini juag memiliki makna segala tindakannya, perkataannya, dan ajarannya merupakan representasi dari perintah Allah dan wahyu yang diturunkan kepadanya. Dengan kata lain, ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang berbicara dan bertindak sesuai dengan wahyu yang diterimanya, bukan berdasarkan keinginan pribadinya. 

Diantara keteladanan beliau yang dapat dicontoh adalah dalam hal kehidupan berkeluarganya. Bagaimana beliau menjadi sosok yang menyayangi keluarganya, keteladanan saat beliau komunikasi dengan isterinya. Berikut diantara keteladanan yang bisa dijadikan contoh yang dikutip dari buku ’Romantisme ala Rasulullah’ (2015: 79) memuji makanan yang dihidangkan sang istri.

Tidak pernah dalam sejarah Nabi mengeluh karena makanan istrinya keasinan, atau terlalu hambar. Bila ditanya oleh istrinya, apakah makanan hasil masakannya enak? Maka Nabi akan menjawab, enak. Berbeda dengan kebanyakan kita yang kalau mendapatkan masakan sang istri asin, maka mereka akan marah sekali. Tapi tidak demikian dengan Nabi Muhammad saw. la tidak mau membuat istrinya bersedih atau kecewa karena tidak dihargai.

Berikutnya Rasulullah tidak pernah mencela atau menyakiti istrinya baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan, memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.” Selanjutnya adalah tidak bermuka masam pada istri.

Rasulullah senantiasa berwajah cerah dan tidak bermuka masam di hadapan istri tanpa sebab. Sebagaimana Tafsir Al-Manar menerangkan Qs.  Annisa/ 4: 19 makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan”.

Romantisme Rasulullah saw berikutnya adalah makan dan minum bersama istri dalam satu wadah. Aisyah r.ha berkisah: “Aku minum air dari sebuah gelas, kemudian Rasulullah mengambil gelas itu dan meminumnya jug dibekas bibir saya itulah Rasulullah menyeruput minuman.Aku menggigit makanan, dan Rasulullah juga meletakkan mulutnya dibekas bibir saya.” (HR. Muslim).

Inilah contoh bagi suami dan istri sepadu dan sepadan, hidup bersama dalam suka dan duka, makan nasi sepiring berdua, minum air segelas berdua. Diantara romantisme beliau adalah bersandar kepada isteri. Aisyah berkata: “Rasulullah menyandarkan atau meletakkan kepalanya di atas pangkuanku, padahal aku sedang datang bulan.” (HR. Muslim).

Kemesraan suami dan istri bisa dibangun dengan saling menyandarkan kepala kepada pasangannya. Jika sedang dalam perjalanan, bisa salah satu menyandarkan kepala di bahu atau di pangkuannya.

Sebegitu dekatkah Rasululllah SAW dan apakah tidak mengurangi nilai-nilai kenabiannya? Justru disinilah menunjukkan bahwa Rasulullah SAW, meskipun beliau penerima wahyu langsung dari Jibril as, meskipun beliau bergelar al mustofa dan al ami, penghulu para nabi dan rasul sejatinya beliau adalah manusia biasa, manusia biasa dengan aktifitas manusia pada umumnya.

Artinya mengikuti Rasulullah SAW adalah sebuah hal yang bisa dilakukan siapapun karenanya misi kenabian sangat sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan fitrah manusia itu sendiri.*

(Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *