Mendoakan Pemimpin adalah Bagian dari Kebaikan

Sabda Rasulullah SAW tentang pemimpin sangat mudah ditemukan, ”setiap orang adalah pemimpin”, ”imam (pemimpin) adalah orang yang diikuti”, ”imam (pemimpin) yang tidak disenangi” dan berikut ini: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian seseorang mengatakan. ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan salat di antara kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855).

Pemimpin dalam Khazanah keislaman disebut dengan imam. Kata ini sangat erat kaitannya dengan kata amama yang berarti ’di depan’. Teks hadits yang umum dapat diketahui bahwa sesungguhnya setiap orang adalah pemimpin. Sungguh menarik bahasa yang terdapat dalam hadits ini dan pemahamannya kira-kira begini: setiap orang adalah pemimpin, dari priabdi pemimpin yang baik akan melahirkan sekelompok orang yang baik juga, selanjutnya akan menggelinding menjadi kelompok yang lebih besar lagi dan akhirnya dari baik menjadi kebaikan pada level yang lebih tinggi. Sehingga kebalikannya logikanya adalah bangsa yang baik karena terdiri dari kelompok yang baik dan kelompok yang baik berasal dari individu-individu yang baik.

Hakikatnya, pemimpin adalah pewaris nilai-nilai kenabian dan membawa misi ilahiyah. Empat kategori pemimpin dipraktekkan dan diperlihatkan Rasulullah SAW yakni SAFT atau siddik, amanah, fatonah dan tabligh. Siddik diartikan  jujur, amanah sebagai dapat dipercaya, fatonah bermakna cerdas dan tabligh yakni menyampaikan. Situasi dan kondisi dimana ia berada menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari situasi kepemimpinan.

Rasulullah menyebutkan bahwa pemimpin yang baik adalah terjadinya keterhubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Adanya keselerasan, ketundukan, kemauan mengikuti atas dasar keikhlasan antaa imam dan makmum maka masing-masing harus tahu posisi dan ketentuannya. Imam adalah orang yang harus diikuti sementara adalah mereka yang mengikuti. Fiqh mensyaratkan tidak boleh makmum mendahului imam tapi jika imam keliru maka makmum mengingatkan sebagai bentuk kerjasama kelompok. Jika yang terbangun adalah semangat membangun, kerjasama egaliter dan saling menguntungkan, harmonisasi dalam bergaul maka akan muncul kesesuaian yang berdampak pada saling menguatkan. Pemimpin yang baik disinyalir oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang senang mendoakan kebaikan pada rakyatnya, sebagai timbal baliknya adalah maka rakyatnya mendoakan kebaikan untuk para pemimpinya. Jangan sepelekan doa, karena kita tidak tahu diantara masyarakat umum ada doa yang begitu dipanjatkan membumbung ke langit menembus batasan-batasan materi. Jangan sepelekan doa karena kita tidak tahu doa mana dan dari mulut mana doa yang diijabah oleh Allah SWT.

Alangkah indahnya pertautan antara pemimpin dan rakyatnya jika doa yang keluar adalah, ”Ya Allah, tunjuki pemimpin kami agar senantiasa berada pada jalanMU, berikan kekuatan padanya hingga apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya tercapai dengan baik dan senantiasa dalam lindungan-MU ya Allah.” Demikian juga doa yang dilantukan oleh pemimpinnya, ”Ya Rob, Anugerahi rakyatku dengan berbagai kebaikan, muliakan keluarganya, sukseskan kehidupan anak dan zuriyatnya, lapangkan rezekinya dan tuntunlah agar senantiasa dalam kebaikan dan selalu berbuat baik”. Luar biasa, dua komunikasi yang selalu terhubung dengan kekuatan langit. Semoga terwujud*

(Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *