Al Faqih Abul Laits As Samarqandi dalam ‘tanbighul ghafilin’ (h. 371) menyebutkan beberapa sebab keberkahan pada suatu kaum akan dicabut dari kehidupan mereka. Kaum yang terdapat kelakuan seperti ini tentu berawal dari komunitas yang lebih kecil dan hingga akhirnya berawal dari sikap perilaku orang perorang yang melakukan kebiasaan yang tidak mengundang ridha Allah SWT. Disebutkan al Hasan meriwayatkan dari Nabi Muhammad saw bahwa beliau bersabda: ”tangan (pertolongan) Allah itu senantiasa menaungi selama orang-orang yang baik di antara mereka tidak mengagungkan orang-orang yang jahat, orang-orang yang baik di antara mereka tidak lunak kepada orang-orang yang jahat, dan orang-orang yang pandai membaca Al-Quran tidak menjilat kepada penguasa. Apabila mereka tidak melakukan hal yang demikian itu maka Allah akan menghilangkan berkah dari mereka, mengangkat orang-orang yang kejam sebagai pemimpin mereka, menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka, dan menjadikan mereka miskin.”
Pernyataan di atas memuat tentang sebab-sebab dicabutnya keberkahan suatu kaum (rofa’allahu ’anhumul barokah), yang pertama adalah jika pelaku kebaikan lebih memuliakan dan mengagungkan orang-orang yang jahat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pelaku kebaikan tidak mau menunjukkan kebaikannya sheingga yang mendominasi dan lebih tampak ke permukaan adalah maraknya kemungkaran dan jeloasnya kejahatan.
Dari sisi ini dapat difahami bahwa kebaikan itu tidak muncul karena kalahnya persaingan dengan kejahatan ditambah lagi dengan pelakunya tidak mau menunjukkannya. Hal ini juga perlu untuk difahami bahwa kebenaran yang tidak terorganisir (maka) kebatilan yang terorganisir akan mengalahkannya atau lebih populer kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.
Persoalannya adalah karena ketakutan baik ketakutan individu maupun ketakutan kolektif menyebabkan si pelaku kebaikan mengambil posisi aman sehingga yang jelas-jelas mungkar kelihatannya menjadi samar-samar atau bahkan kebaikan tidak nampak sama sekali.
Hal ini memiliki hubungan atau kesesuaian nash yang menyebutkan jika zina dan riba telah nampak dimana-mana maka itu sebagai pertanda akan datangnya bala/ musibah. Warnai sekitar kita, penuhi medsos dengan ajakan kebaikan.
Kebaikan harus ditunjukkan sebagai diantara cara agar masih dilihat bahwa kebaikan masih ada, bahwa ketaatan kepada Allah SWT masih jelas ada disekitar kita. Bentuk adanya kebaikan yang nampak adalah sebagai tanda bahwa kebaikan masih eksis dan tidak tunduk atau mengalah pada kemungkaran yang nampak jelas. Dalam hal ini, sikap tegas dalam bersikap sangat diperlukan.
Perilaku berikutnya yang bisa menyebabkan dicabutnya keberkahan adalah adanya perilaku orang-orang yang faham agama (yang disebutkan dengan orang-orang yang pandai membaca al Quran) namun justru tidak berani menunjukkan keberpihakan pada kebaikan, posisi mereka pada posisi yang mencari jalan selamat dalam hidup.
Mereka dengan karakter ini adalah karakternya pengikut Fir’aun dan pendukungnya Qarun. Kekuasaan dan harta menjadi pelindung bagi mereka yang lemah imannya, tidak istiqamah dan tidak yakin dengan perjalanan hidupnya. Kekuasaan dengan jabatan yang diemban menjadi salah satu godaan terbesar bagi seorang manusia. Kekuasaan dengan fasilitas yang dimiliki mampu mengubah segala sesuatunya.
Seorang yang faham agama, seorang dengan kategori ulama sejati sesungguhnya adalah yang masuk kategori yakhsyallahu (yang takutnya hanya kepada Allah SWT). Kekuasaan dengan berbagai keistimewaan pada seseorang menjadi daya tarik tersendiri. Pernyataan Rasulullah saw dengan tegas menyebutkan bahwa ’dan orang-orang yang pandai membaca Al-Quran tidak menjilat kepada penguasa’ akan diturunkan keberkahan bagi masyarakat setempat.
Lantas apa dampak dari dua sikap di atas? Jawabannya adalah dicabutnya keberkahan, tidak hanya itu, Allah akan mengangkat orang-orang yang kejam sebagai pemimpin mereka, menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka, dan menjadikan mereka miskin.” Semoga diri kita, orang-orang terdekat kita dan masyarakat kita senantiasa terdorong sebagai pelopor kebaikan dan menunjukkan bahwa kebaikan masih jelas nyata dan dengan nyata tersebar dimana-mana. Inilah diantara cara menjemput keberkahan. Semoga**
(Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)
Tinggalkan Balasan