Bersyukurlah, Ketika Hati dan Lisanmu Masih Bisa Berzikir

Dua variabel yang menjadi kata kunci dari judul di atas adalah ”hati” dan ”zikir”. Keduanya sesungguhnya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Hati tenang karena kuatnya zikir, efek dari zikir yang benar adalah munculnya rasa ketenangan jiwa. Bukankah jiwa yang tenang dan hati yang merasa aman adalah karunia terbesar dari Allah SWT? Bahkan ada satu doa yang diajarkan Nabi Muhammad saw untuk memohon doa agar diberi jiwa yang tenang dan hati yang merasa puas dengan pemberian Allah SWT (a’udzubika min qolbin la yakhsa’).

Tentang zikir, mufassir kontemporer Indonesia saat ini, Prof. Quraisy Syihab dalam bukunya “Kosakata Keagamaan” (2020: 8) menyebutkan berikut: ”Kata dzikir pada mulanya digunakan oleh pengguna bahasa Arab dalam arti antonim lupa. Sementara pakar berpendapat bahwa kata itu pada mulanya berarti ”mengucapkan dengan lidah/ menyebut sesuatu”, makna ini kemudian berkembang menjadi ”mengingat”, karena mengingat sesuatu sering mengantar lidah untuk menyebutnya”. Uraian Prof Quraisy ini memahamkan kepada kita bahwa orang yang berzikir berarti orang yang ingat.

Jika dirangkai dengan kata Allah sehingga menjadi zikrullah maka yang dimaksudkan adalah mengingat Allah SWT dengan banyak menyebut nama-Nya (zikron katsiron). Syekh al Musthafa al Adawi dalam kitabnya al Bayan fi Ma’ani Kalimat al Quran (yang diterjemahkan menjadi Al Bayan: Kamus Kosakata al Quran, 2012: 115) memberikan arti zikir sebagaimana ayat zikra liz zakirin sebagai ”nasihat bagi orang-orang yang mau mengambil nasihat”, dilihat dari pengertian ini ternyata memiliki kesesuaian makna bahwa zikir sebagai mengingat (dalam banyak hal termasuk kematian) sesungguhnya adalah nasihat.

Teman yang mengingatkan kita dalam hal kebaikan hakikatnya adalah memberikan nasihat, guru yang memberikan nasihat hakikatnya adalah sedang mengingatkan kita sebagai muridnya. Jika siapapun dan apapun dilihat sebagai ”cara kerja zikir” maka sudah selayaknya kita berterimakasih kepada. Zikir adalah mengingatkan dan mengingatkan adalah nasihat sementara menyampaikan nasihat adalah anjuran agama.

Menyebut nama Allah SWT sebagai bentuk pengagungan-Nya menjadi bagian utama dalam memanjatkan doa atau permohonan. DiNYATAKAN ”Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut (nama-nama) itu”. Frasa ini merupakan bagian dari ayat 180 Qs. Al-A-raf, yang menekankan pentingnya berdoa kepada Allah dengan menggunakan Asmaul Husna (nama-nama indah Allah).

Dikisahkan ada satu pertanyaan yang diajukan seorang murid kepada Guru Sekumpul, Kyai Zaini (ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan), ”Tuan Guru, saya sudah sering berzikir dengan melafazkan berbagai kalimat zikir namun kala lisan saya berzikir, hati dan pikiran saya tidak fokus dan kemana-mana”. Apa jawab Tuan Guru Zaini, ”Bersyukurlah, meskipun hatimu kemana-mana, tidak fokus kala lisanmu berzikir. Syukurilah bahwa ternyata lisanmu masih mau dan mampu berzikir dan semoga Allah merahmati lisanmu”, ujar Guru Sekumpul. Saudaraku, begitulah seringnya kita kala melafazlkan zikir.

Lisan membaca subhanallah tapi pikiran ke tanah kaplingan yang belum digarap, lisan kita ucapkan allahu akbar tapi pikiran kita kepekerjaan yang belum selesai dan masih banyak lagi. Perkuat diri untuk fokus dan bisa khusyu dalam ibadah (zikir) harus tetap diusahakan namun manakala sudah maksimal tetap juga tidak fokus maka kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.  

Orang yang berzikir dengan semampunya maka setidaknya ia ingat Allah SWT dan balasan Allah SWT sungguh luar biasa yakni fazkuruni azkurkum (jika engkau ingat AKU maka AKU akan mengingatmu), bagaimana keadaan orang yang diingat oleh orang lain apalagi oleh Allah SWT? pasti akan ada keistimewaan yang diberikan kepada orang tersebut.

Mengingat Allah SWT dengan segala keagungan-Nya tidak akan lahir begitu saja tanpa proses perenungan yang mendalam. Disinilah kaitan bahwa hati yang berzikir kemudian memahami zikirnya maka akn muncul perenungan sehingga setiap nasihat yang ada sebagai proses pembimbingan terhadap aktifitas lahir dan batinnya. Pada level ini tadabbur sebagai usaha memahami ayat-ayat Allah SWT akan melahirkan sosok manusia yang bergetar hatinya jika nama Allah SWT disebut dan bertambah imannya. Semoga*.

(Oleh Sholihin H.Z., S.Ag., M.Pd.I.)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *